Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Juli 2016

Bukit Love

by
Bukit Love

Bukit Love terletak di dusun Jatikerep, Desa Karimunjawa Kecamatan Karimunjawa Kabupaten Jepara. Letaknya Bukit LOve tidak jauh dari kota, Anda bisa bersepeda motor sekitar 10 menit untuk mengunjungi tempat wisata yang satu ini. Disini anda akan disuguhkan batu bertulisan "LOVE" yang terletak di atas bukit yang mengarah ke laut dengan panorama bukit dan hamparan laut yang luas, dan disini juga salah satu tempat sunset point yang indah di Karimunjawa.


Bukit Love,Jatikerep,Karimun Jawa,Jepara,Jawa Tengah
Photo taken by @nurburhan_karimunjawa_explore

Bukit ini di berinama Bukit Love, karena di bukit ini terdapat bangunan Tugu Love yang terletak didusun Jatikerep, tepatnya di belakang SD Karimunjawa 3.

Dibukit ini kita bisa memandang lautan dengan bebas, disini juga bisa kita gunakan untuk sekadar bersantai seraya menatap laut. Selain itu juga kita bisa berfoto ria dibanguan love ini. Sangat menyenangkan bukan, kalau kita berfoto dengan keluarga atau orang yang kita sayangi dibukit ini.

sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Bukit_Love_Karimunjawa

Sabtu, 30 Juli 2016

Gunung Argopuro

by
Gunung Argopuro

Gunung Argapura (sering dieja Gunung Argopuro) adalah sebuah gunung berapi kompleks yang terdapat di Jawa Timur, Indonesia. Gunung Argapura mempunyai ketinggian setinggi 3.088 meter. Gunung Argapura merupakan bekas gunung berapi yang kini sudah tidak aktif lagi.


Gunung Argopuro,Jember,Jawa Timur
Photo taken by @gezt_rock

Gunung ini termasuk bagian dari Pegunungan Iyang, sehingga kompleks ini sering disebut Iyang-Argapura. Kompleks Iyang-Argapura merupakan kompleks gunung berapi raksasa yang mendominasi bentang alam antara Gunung Raung dan Gunung Lemongan di Jawa Timur, Indonesia. Di kompleks ini terdapat untaian lembah sedalam 1.000 m.

Gunung Argapura merupakan puncak tertinggi dari Pegunungan Iyang serta berada pada posisi di antara Gunung Semeru dan Gunung Raung. Ada beberapa puncak yang dimiliki oleh gunung ini. Puncak yang terkenal bernama Puncak Rengganis / Welirang (topografichen Dienst 1928). Sedangkan puncak tertingginya berada pada jarak ± 200 m di arah selatan puncak Rengganis. Puncak tertinggi ini bernama Argapoera dan ditandai dengan sebuah tugu ketinggian (triangulasi).

Gunung Argapura mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.


Gunung ini berada dalam wilayah Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Jember, Kabupaten Bondowoso, dan Kabupaten Situbondo, dengan puncak Rengganis ada di wilayah Kabupaten Jember. Di kawasan Puncak Rengganis konon menurut cerita masyarakat sekitar bermukim Dewi Rengganis, adik dari Nyi Roro Kidul.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Argapura

Jumat, 29 Juli 2016

Pulau Togean,Sulawesi Tengah

by
Pulau Togean,Sulawesi Tengah 

Taman Nasional Kepulauan Togean adalah sebuah sebuah taman nasional di Kepulauan Togean yang terletak di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah yang diresmikan pada tahun 2004. Secara administrasi wilayah ini berada di Kabupaten Tojo Una-una.

Pulau Togean,Sulawesi Tengah 
Photo taken by @lucky_arie

Kepulauan ini dikenal kaya akan terumbu karang dan berbagai biota laut yang langka dan dilindungi. Beberapa aksi wisata yang dapat dilakukan di Kepulauan Togean antara lain: menyelam dan snorkelling di Pulau Kadidiri, memancing ,menjelajah alam hutan yang ada di dalam hutan yang ada di Pulau Malenge, serta mengunjungi gunung Colo di Pulau Una-una. Wisatawan juga bisa mengunjungi permukiman orang Bajo di Kabalutan.

Dibentuk oleh aktivitas vulkanis, pulau ini ditutupi oleh tumbuh-tumbuhan yang subur dan rimbun, serta dikelilingi oleh formasi bukit karang. Batu karang dan pantai menyediakan tempat bagi beberapa binatang laut untuk tinggal dan berkembang biak, seperti kura-kura hijau.

Sumber : https://id.wikipedia.org/

Selasa, 26 Juli 2016

GILI LABA Sumbawa Timur

by
Gili Laba, Sumbawa Timur


Taman Nasional Komodo merupakan gugusan kepulauan yang terletak di sekitar perairan Sumbawa dan Flores yang beberapa di antaranya merupakan habitat asli komodo. Keindahan dan keelokan pulau-pulau di sekitar P. Komodo dan P. Rinca juga masuk ke kategori TNK (Taman Nasional Komodo) yang harus dijaga dan berada di bawah pengawasan pemerintah. Banyak di antara pulau-pulau kecil tersebut yang tidak berpenghuni padahal menyimpan keindahan yang mempesona bila dijadikan potensi wisata.
Salah satu diantaranya adalah Gili Laba, sebuah pulau kecil yang letaknya dekat dari P. Komodo hanya sekitar kurang lebih 1 jam perjalanan dari P. Komodo. Dari Labuan Bajo waktu yang dibutuhkan lebih lama lagi yaitu 4jam perjalanan dengan kapal motor. Gili Laba ini secara administratif masuk ke dalam wilayah Sumbawa, sebab letaknya yang lebih dekat dari P. Sumbawa.
Nama Gili Laba mulai populer sebagai destinasi wisata di kawasan Taman Nasional Komodo sejak berjamurnya paket-paket tur sailing trip yang ditawarkan puluhan agen wisata, dari Lombok hingga Labuan Bajo (Flores). Di tengah perjalanannya pasti kapal tersebut akan singgah di pulau-pulau kecil yang dianggap menarik dan menyimpan potensi wisata. Salah satu tempat favorit kapal untuk menepi adalah Gili Laba. Pulau kecil yang tidak berpenghuni ini mulai menarik perhatian wisatawan yang datang ke P. Komodo karena konon menghadirkan panorama alam laut Flores yang tak tertandingi dari atas bukitnya. Memang benar ketika Anda sampai ke Gili Laba hamparan pasir pantainya yang putih dan pemandangan kejernihan air laut yang memiliki degradasi mengagumkan menyambut Anda untuk singgah di tempat ini. Seantero pulau didominasi oleh bukit-bukit savanna yang hijau saat musim hujan dan menguning saat kemarau. Siapapun yang datang ke sini pasti akan menikmati seluruh panorama alam yang disajikannya.
Mulai dari laut yang sangat memancing kita untuk langsung nyebur dan snorkeling atau berada di pantainya untuk berjemur ditemani semilir angin Laut Flores yang cukup kencang. Walau berada dekat dari Taman Nasional Komodo jangan khawatir akan ada hewan predator ini di seluruh pulau. Di Gili Laba hewan-hewan yang tinggal kebanyakan diketahui hanya burung-burung atau serangga-serangga kecil khas padang rumput Indonesia Timur. Selain menikmati langsung keindahan laut dengan snorkeling, kita bisa sekalian mengeringkan badan dengan mencoba tracking ke puncak bukit yang menawarkan pemandangan menakjubkan. Untuk tracking sampai ke puncak dibutuhkan cukup mental dan fisik yang kuat karena tidak jalurnya cukup menanjak tajam hingga ada yang sampai kemiringan 70 derajat.



Waktu yang dibutuhkan untuk sampai puncak kira-kira sekitar 30-45 menit. Terkadang kencangnya angin juga bisa mengendorkan semangat kita, namun jagan khawatir di sekitar pantai kita bisa menemukan patahan-patahan kayu yang bisa berguna sebagai pijakan saaat tracking. Ketika berhasil sampai di puncak pastinya segala keletihan yang dirasakan akan hilang dan berganti dengan bahagianya jiwa melihat pemandangan laut dan Gili Laba serta pulau terdekatnya yang mengagumkan. Entah harus melukiskannya seperti apa yang pasti semua yang sampai di puncak langsung mengambil kameranya untuk mengabadikan lukisan kebesaran Tuhan sebagai ungkapan rasa syukur.
Semakin tinggi puncak,maka angin yang menerpa semakin kencang adalah ungkapan yang juga harus diperhatikan oleh para wisatawan yang datang agar tidak terlalu berlebihan dalam bergerak karena resikonya lumayan tinggu, yaitu bisa jatuh atau bergelinding ke bawah. Ingin tetap berada di atas memandangi panorama yang tersaji akan tetapi berasa di sana 15-30 menit dirasa sebagai waktu yang paling pas karena faktor angin dan juga harus segera turun ke bawah yang membutuhkan perjuangan serta kehati-hatian.
Walau sebentar tapi pasti akan meninggalkan kesan yang mendalam bagi siapapun yang pernah melihat pemandangan indah tersebut. Ketika turun waktu yang dibutuhkan biasanya lebih cepat sekitar 20-30 menit saja karena lebih mudah tapi tetap berhati-hati untuk tetap menjaga keseimbangan agar tidak tergelincir ke bawah. Selama ini memang Gili Laba merupakan spot favorit setiap travel agent yang mengadakan sailing trip untuk singgah, akan tetapi bila kita menyewa perahu sendiri dari Labuan Bajo tentunya kita juga bisa merequest untuk singgah di sini setelah mengunjungi P. Komodo. Tapi yang harus diingat adalah waktu untuk pulang dari Gili Laba dianjurkan tidak melebihi jam 2 siang karena pertimbangan arus Laut Flores yang tidak terduga dan juga cenderung kejam serta lamanya perjalanan pulang. Solusinya adalah berangkat dari Labuan Bajo dari subuh hari sehingga sampai di kawasan P. Komodo juga tidak terlalu siang sehingga waktu ke Gili Laba tidak kepepet.
Dengan menyewa perahu dari Labuan Bajo dengan harga sekitar 1 juta rupiah/ harinya tentu rombongan teman-teman ataupun keluarga akan lebih puas menikmati perjalanan karena perahu khusus untuk sendiri. Jangan lupa bawa air minum saat tracking dan sepatu yang cukup tangguh serta pakaian yang sporty (lebih baik tidak pakai rok) agar perjalanan Anda menuju puncak bukit aman dan nyaman.
Dan yang terpenting adalah Semangat! Mau dari Barat mau dari Timur, mau dengan sewa kapal sendiri atau ikutan sailing trip Anda harus sempatkan diri singgah di Gili Laba yang menyajikan pemandangan atas bukit yang tiada duanya.

sumber : http://jalan2.com/objek-wisata/detail/gili-laba

Sabtu, 23 Juli 2016

PULAU CANGKE SULAWESI SELATAN

by
PULAU CANGKE SULAWESI SELATAN





Nama Pulau Cangke memang belum seterkenal Samalona atau Losari. Namun bukan berarti pulau ini tak punya pesona yang kalah menganggumkannya. Terletak di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) kamu bisa datang ke pulau tersebut dengan menumpang kapal sewaan milik nelayan. Pada umumnya keberangkatan ke Pulau Cangke dilakukan dari Pelabuhan Paotere Makassar. Akses ke sana memang terbilang tidak mudah. Pasalnya belum ada kapal regular yang melayani rute ke Pulau Cangke. Turis yang ingin datang harus menyewa kapal yang baru akan berangkat setelah diisi 5 orang.




sumber redaksi kata : fp.com/piknikyuk

Jumat, 22 Juli 2016

Tebing Citatah

by
TEBING CITATAH





Tebing Citatah merupakan sebuah kawasan tebing yang terletak di kawasan Citatah di Kabupaten Bandung Barat, tepatnya di 5 km Padalarang. Bila memasuki kota Bandung dari Cianjur, Bogor, Jakarta yang melewati Puncak atau Jonggol akan melewati kawasan ini. Dengan morphologi kawasan yang berbukit dan terbentuk sebagian besar dari kapur, sehingga Citatah terlihat berbeda dengan bukit – bukit pada umumnya. Citatah pernah menjadi bahan perbincangan di berbagai media lokal dan nasional, setelah KRBC ( Kelompok Riset Cekungan Bandung ) melakukan kajian terhadap kawasan ini. Sebagian penemuan KRBC yang fenomenal yaitu ditemukannya situs purba di Gua Pawon pada 9 Desember 2000 yang untuk pertama kalinya di Goa Pawon, Pasir Pawon, Kars Citatah, antara lain berupa alat–alat batu dan tulang, gerabah, sisa tulang, dan gigi binatang.


Citatah adalah daerah pertambangan kapur yang sangat produktif. Pertambangan ini sudah berlangsung sejak pertengahan abad ke–19 dan terus berlangsung hingga kini. Tentu saja, dulu belum seaktif sekarang yang sudah menggunakan alat canggih dan dinamit untuk meledakkan bagian bukit yang mengandung gamping yang berdampak buruk terhadap kawasan Citatah sendiri. Citatah memiliki tiga tebing yaitu Tebing Citatah 48, Tebing Citatah 90 dan Tebing Citatah 125.

sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Tebing_Citatah
Photo By : https://www.instagram.com/ucup.uliners
Photo By : https://www.instagram.com/AYODOLAN

Curug Citambur

by


Curug Citambur, sebuah air terjun yang ketinggiannya kira-kira 100 meter di Desa Karang Jaya, Kec. Pasirkuda, Cianjur Selatan. Airnya sangat dingin dan tak ada yang berani bermandi di air jatuhannya. Dipastikan badan akan terasa sakit sekali bila tertimpa air jatuhan karena volumenya cukup besar, jauh lebih besar dan tinggi dari Curug Cimahi di daerah Cisarua, Kab. Bandung.

Air terjun yang lokasinya selatan Ciwidey, Kab. Bandung, yang jaraknya kira-kira 40 km itu, berpanorama indah. Sekitar curug selalu diliputi kabut tipis dan suara air jatuhannya begitu keras dan sesekali diselingi suara burung kutilang, seakan memperkaya simfoni suara alam kawasan itu.

Berada di sana serasa di alam yang masih “perawan”, belum banyak disentuh tangan manusia. Objek wisata itu masih eksotis. Ada dua versi, kenapa curug itu bernama Citambur. Dargana, Ketua Badan Pertimbangan Desa (BPD) Desa Karang Jaya menjelaskan, kata orang tua dulu, setiap air terjun yang jatuh ke kolam berbunyi “bergedebum” seperti tambur.

                                
Saat itu, mungkin volume air terjun jauh lebih besar dari sekarang dan kolamnya cukup luas sehingga menimbulkan bunyi seperti alat musik tabuh yang dipukul setiap air menimpa kolam. Seiring menyusutnya volume air, bunyi itu tak terdengar lagi.

arah_curug_citambur.jpgVersi lain, curug tersebut dulu termasuk wilayah Kerajaan Tanjung Anginan, yang rajanya bergelar Prabu Tanjung Anginan. Pusat kerajaannya berada di Pasirkuda, yang kini termasuk Desa Simpang dan Karang Jaya, Kec. Pasirkuda. Dugaan pusat kekuasaan di sana karena ada batu yang berbentuk kursi yang diyakini warga sebagai tempat duduk raja. Sementara itu, nama Pasirkuda karena ada sebuah batu di bukit (pasir dalam bahasa Sunda) yang berbentuk kuda.

Pada saat kerajaan berdiri, setiap raja mau mandi ke curug selalu ditengarai dengan suara tambur, yang ditabuh para pengawal. Suara berdebumnya alat musik tabuh itu terdengar cukup jauh sehingga warga Pasirkuda menyebutnya Curug Citambur.

Namun, baik Dargana maupun Kepala Desa Karang Jaya, Kec. Pasirkuda, Kab. Cianjur, Dudih Rachmansyah tidak mengetahui, abad ke berapa Kerajaan Tanjung Anginan berdiri. Dalam buku-buku sejarah yang ada pun tak dikenal kerajaan tersebut. Mungkin, Kerajaan Tanjung Anginan sebuah legenda. Hanya yang pasti, kata Dedih, di Curug Citambur sesekali ada yang bertapa. Mereka sepertinya menganggap di curug itu ada kekuatan supranatural.

MESKI Curug Citambur yang memesona belum diberdayakan secara optimal, terlebih bisa ikut membantu menyejahterakan warga sekitar, tetapi penduduk di sana berkeyakinan satu saat air terjun tersebut bisa membebaskan warga dari lilitan kemiskinan.

Yayan Rohyana, tokoh masyarakat Karang Jaya mengungkapkan, menurut orang tua, paling tidak ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain, jika ada pihak luar yang mau menata.

Pendapat itu bisa dipahami, terlebih jika menelusuri wilayah selatan, mulai dari Ciwalini, Kab. Bandung-Pagelaran-Sindangbarang-Cidaun-Narigul, Kab. Cianjur-Ciwalini (jalur melingkar) banyak objek wisata yang potensial yang belum diberdayakan.
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Curug_Citambur

Andong Mountain Indonesia

by



Gunung Andong adalah sebuah gunung bertipe perisai di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Gunung ini belum pernah mempunyai aktivitas meletus. Gunung Andong terletak di antara Ngablak dan Tlogorjo, Grabag dan berketinggian sekitar 1.463 m. Gunung Andong merupakan salah satu dari beberapa gunung yang melingkari Magelang. Berdampingan dengan gunung Telomoyo, gunung ini berada di perbatasan wilayah Salatiga, Semarang, dan Magelang.

Gunung ini memiliki tinggi 1.726 mdpl, mudah dan hanya butuh 1,5 jam untuk bisa sampai di puncaknya. Perjalanan singkat tersebut tentu akan terbayar dengan pemandangan indah dari atas puncaknya.




Satu tujuan wisata alam di lereng Gunung Andong yang dapat disinggahi adalah Hutan Wisata Mangli. Hutan Mangli secara administrasi pengelolaan hutan berada di bawah tanggung jawab RPH Pager Gunung, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Ambarawa yang merupakan salah satu BKPH di wilayah KPH Kedu Utara.
Letak Hutan Mangli tidak jauh dari akses utama jalan Jogja-Semarang, yaitu dengan jalan beraspal melalui wilayah Kecamatan Ngablak. Di kanan kiri jalan terdapat gerumbulan perdu dan rumpun tanaman cengkeh sisa masa kolonial yang masih bertahan. Beraneka rupa rumpun bambu juga memagari kanan dan kiri jalan dengan beragam jenis, mulai bambu petung, apus, legi, wulung, hingga ampel. Beberapa bagian terasiring dimafaatkan warga untuk menanam komoditas sayuran seperti kubis, wortel, kacang panjang, terong, hingga lombok dan jetsin.
Meskipun aslinya termasuk hutan alam hujan tropis, akan tetapi vegetasi pepohonan utama yang ada di hutan Mangli adalah tanaman pinus. Terdapat bumi perkemahan Mangli, yang terhampar di pelataran lembah di sela-sela batang pohon pinus. Kawasan perkemahan yang cukup luas dilengkapi dengan fasilitas MCK.
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Andong

Blue lagoon at Sombori Island, Sulawesi Tengah Indonesia

by
Pulau Sambori Yang terletak di Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah




Pulau Sambori adalah sepenggal surga yang jatuh di Morowali sulawesi tengah Letaknya antara kec. Bungku selatan dan menuiu kepulauan. Pulau Sambori disebut sebagai 'Raja Ampat' baru.

Sombori adalah Kawasan konservasi yang terdiri dari gugusan pulau-pulau karang nan indah. Letaknya berada di bagian selatan Teluk Tolo Kabupaten Morowali, di antara dua wilayah kecamatan, yakni Bungku Selatan dan Menui Kepulauan.

Dinas terkait, yakni Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Morowali, menyebut Sombori bagaikan "Sepetak Surga yang Jatuh di Lautan Bumi Morowali".

Masuk Kawasan Sombori, akan disuguhi pemandangan menakjubkan. Tebing karang tinggi mengawal di sisi kiri dan kanan. Laut yang di luar cukup berombak, tiba-tiba hilang. Yang tertinggal hanyalah dataran air, menyuguhkan pemandangan elok dan memukau.




Untuk masuk lebih ke dalam lagi di Kawasan Sombori, niscaya akan semakin menambah rasa takjub dengan pemandangan yang begitu mempesona. Semakin banyak gugusan pulau karang dengan berbagai ukuran dan bentuk.

Ada yang hanya serupa karang menonjol tanpa vegetasi, hingga pulau karang raksasa yang diselimuti pepohonan rimbun nan eksotik. Burung-burung pun tampak tenteram bertengger dan terbang di atasnya.

"Jika beruntung, kita akan disuguhi atraksi lumba-lumba atau hiu paus yang tengah mengejar ikan. Kadang secara bergerombol mereka akan melompat-lompat, selayaknya atraksi sirkus alami," kata Kepala Bidang Kelautan, DKP Morowali, H Nasarudin, saat berbincang dengan Metrosulawesi di ruang kerjanya, belum lama ini.

Kawasan Sombori adalah "surga" bagi penikmat kegiatan bawah laut. Persiapkan alat snorkeling atau alat menyelam. Karena ribuan binatang laut telah siap menyambut. Tak perlu mencari terlalu jauh, karena aquarium alam raksasa nan penuh terumbu karang sehat, akan menjadi pemandangan menakjubkan di depan mata.

Beraneka warna dan bentuk binatang karang, terhampar dilantai lautan. Anemon laut yang menjadi rumah bagi berbagai ikan warna-warni, bergoyang mengikuti arus air. Bagai pertunjukan penari di dasar laut. Karang meja yang luas dengan mudah ditemukan, menjadi tempat ikan-ikan bermain.

Dikelilingi Pasir Putih Nan Menawan

Sombori merupakan Kawasan Konservasi laut seluas 41.342 hektar. Di sekitarnya terdapat beberapa pulau kecil. Sebagian dijadikan tempat tinggal para nelayan, namun lebih banyak yang kosong tanpa dijamah manusia.

Pantai dengan pasir putih bersih adalah kekhasan pulau-pulau kecil yang berserak di Teluk Tolo. Salah satunya Pulau Dua Laut, sebuah pulau kecil yang jika dikelilingi sambil berjalan kaki tak lebih dari 30 menit. Dihuni oleh kurang lebih 30 keluarga nelayan. Pulau ini dikelilingi oleh pasir putih nan menawan.

Untuk mencari Kawasan Sombori, dapat ditempuh melalui Kendari, Sulawesi Tenggara. Selanjutnya, dapat memilih menempuh perjalanan darat atau laut.

Jika memilih perjalanan darat, perjalanan selama 6 jam menuju Pelabuhan Lafeu, Kecamatan Bungku Pesisir. Dengan medan menantang akan menjadi suguhannya. Dilanjutkan perjalanan laut sekitar 1 jam menuju lokasi.

Sedangkan jika menempuh perjalanan laut, akan memakan waktu setengah hari, jika menggunakan kapal niaga. Sedangkan jika menggunakan speedboat, dapat ditempuh sekitar 4-5 jam.

Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai lokasi, serta regulasi perjalanan, dapat menghubungi contact person atasnama Haji Lalok di nomor 082193566627, dan Fahrin di nomor 085241157741. Selamat datang di Sombori, "Surga Tersembunyi" di Teluk Tolo Morowali.



sumber : http://www.metrosulawesi.com/article/pesona-pulau-sombori